Fakta Tv – Pemerintah terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dengan mengandalkan kekuatan armada udara sebagai ujung tombak operasi. Langkah ini dinilai krusial untuk mempercepat proses deteksi dini sekaligus penanganan titik api, terutama di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Penguatan strategi berbasis udara ini menjadi respons atas tantangan geografis dan kondisi cuaca yang kerap memperburuk potensi penyebaran kebakaran. Dengan dukungan teknologi dan mobilitas tinggi, armada udara memungkinkan pemantauan lebih cepat dan tindakan pemadaman yang lebih efektif.
Saat ini, sebanyak lima unit helikopter telah disiagakan untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla di wilayah Riau. Dari total tersebut, dua unit difungsikan khusus untuk misi water bombing atau penyiraman air dari udara guna memadamkan api secara langsung. Sementara itu, tiga unit lainnya digunakan untuk patroli udara yang bertugas memantau perkembangan titik panas secara real time.
Tidak hanya mengandalkan helikopter, pemerintah juga mengerahkan dua unit pesawat jenis Cassa untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC). Teknologi ini dimanfaatkan untuk memicu hujan buatan di wilayah rawan karhutla sebagai langkah preventif agar api tidak meluas.
Kepala BPBD Damkar Riau, Edy Afrizal, menegaskan bahwa strategi udara menjadi salah satu faktor penentu dalam pengendalian karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan cenderung kering.
“Dengan dukungan armada udara yang ada saat ini, baik helikopter patroli maupun water bombing, serta pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, kita dapat melakukan pemantauan dan penanganan secara lebih cepat dan terintegrasi,” ujar Edy.
Ia menjelaskan bahwa patroli udara yang dilakukan secara rutin memberikan keuntungan signifikan dalam mendeteksi titik api sejak dini. Dengan begitu, tim gabungan di lapangan dapat segera bergerak sebelum api berkembang menjadi kebakaran besar yang sulit dikendalikan.
“Sinergi antara patroli udara, pemadaman melalui water bombing, dan operasi modifikasi cuaca menjadi kekuatan utama kita saat ini dalam menjaga agar karhutla tetap terkendali,” jelasnya.
Penguatan armada udara ini juga mendapat dukungan langsung dari pemerintah pusat. Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tambahan satu unit helikopter water bombing jenis MI-8 telah dikirim ke Riau dan tiba di Pekanbaru pada Selasa (7/4/2026).
Helikopter tersebut langsung dioperasikan untuk memperkuat upaya pemadaman di wilayah Kabupaten Bengkalis, salah satu daerah yang kerap menjadi titik rawan kebakaran. Kehadiran armada tambahan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas respons terhadap kebakaran yang muncul secara tiba-tiba.
Langkah cepat ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengantisipasi potensi karhutla yang dapat berdampak luas, tidak hanya pada lingkungan tetapi juga kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Selain fokus pada pemadaman, pemerintah juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan TNI, Polri, serta pemerintah daerah. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh sumber daya dapat dimanfaatkan secara maksimal dan tepat sasaran.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat risiko yang ditimbulkan sangat besar. Upaya pencegahan berbasis partisipasi publik dinilai tetap menjadi kunci utama dalam menekan angka kejadian karhutla.
Dengan kombinasi kekuatan armada udara, dukungan teknologi, serta sinergi antarinstansi, pemerintah optimistis penanganan karhutla di Riau dapat berjalan lebih efektif dan terkendali. Strategi ini diharapkan mampu meminimalkan dampak kebakaran sekaligus menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.***












