Peristiwa

Kebakaran Hebat Hanguskan Puluhan Rumah di Pulau Kijang, 50 Rumah Terbakar

17
×

Kebakaran Hebat Hanguskan Puluhan Rumah di Pulau Kijang, 50 Rumah Terbakar

Sebarkan artikel ini
Kebakaran Hebat Hanguskan Puluhan Rumah di Pulau Kijang
50 rumah warga terbakar. (FaktaTV/Indra)

FAKTA TV – Musibah kebakaran besar melanda kawasan padat penduduk di Jalan Pahlawan, RT 02 RW 02, Kelurahan Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, Rabu (8/4/2026) siang. Peristiwa ini menyoroti kembali kerentanan kawasan permukiman rapat terhadap bencana kebakaran, terutama saat kondisi cuaca ekstrem.

Sedikitnya 50 unit rumah warga dilaporkan hangus dilalap api dalam kejadian tersebut. Kobaran api yang cepat membesar membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan barang berharga mereka.

Kasat Reskrim Polres Inhil, AKP Budi Winarko, mengungkapkan bahwa kebakaran pertama kali terdeteksi sekitar pukul 11.30 WIB. Api diduga muncul dari area sekitar rumah milik salah seorang warga, H. Iskandar.

“Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, api dengan sangat cepat membesar dan merambat ke bangunan di sekitarnya yang sebagian besar merupakan permukiman rapat,” ujar Budi.

Situasi yang awalnya tenang mendadak berubah mencekam. Asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi dan menyelimuti langit Pulau Kijang. Warga panik dan berlarian menyelamatkan diri sambil berusaha membantu proses pemadaman secara manual.

Kronologi kejadian juga diperkuat oleh kesaksian M. Ndong (40), yang saat itu tengah duduk santai di sebuah warung kopi milik Pak Jenggot, tidak jauh dari lokasi awal kebakaran. Ia mengaku melihat api sudah membesar dan menjalar cepat ke bagian rumah.

Tanpa menunggu lama, M. Ndong langsung berteriak meminta pertolongan warga sekitar. Teriakan tersebut memicu kepanikan massal, namun juga membangkitkan solidaritas warga yang bergegas membantu dengan peralatan seadanya.

Warga mencoba memadamkan api menggunakan ember dan alat sederhana lainnya. Namun upaya tersebut tidak berjalan efektif karena kondisi cuaca yang ekstrem.

“Upaya pemadaman mandiri oleh warga sempat menemui kendala besar akibat kondisi cuaca yang sangat panas dan hembusan angin kencang di lokasi kejadian,” ucap Budi.

Cuaca panas disertai angin kencang mempercepat penyebaran api. Kobaran dengan mudah melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya, mengingat jarak antar rumah yang sangat rapat. Hal ini menjadi faktor utama sulitnya pengendalian api di fase awal kejadian.

Setelah berjibaku selama kurang lebih dua setengah jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 14.00 WIB. Proses pemadaman melibatkan tim pemadam kebakaran dari Kecamatan Reteh serta bantuan masyarakat setempat.

Data sementara dari pihak kepolisian mencatat setidaknya 47 kepala keluarga terdampak. Beberapa nama korban yang sudah teridentifikasi antara lain Ali, Subli, H. Naya, Firman, Nur Maini, hingga Maspar.

“Meski demikian, jumlah ini masih bersifat sementara karena ada beberapa bangunan lain yang hingga kini datanya masih terus diverifikasi oleh petugas di lapangan guna memastikan akurasi jumlah kerugian,” jelas Budi.

Di tengah besarnya kerugian material, terdapat satu hal yang patut disyukuri. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Seluruh warga dilaporkan berhasil menyelamatkan diri tepat waktu sebelum api meluas.

Meski demikian, kerugian diperkirakan mencapai angka yang sangat besar. Banyak rumah beserta isinya ludes terbakar tanpa sempat diselamatkan. Hingga kini, belum ada estimasi resmi terkait total kerugian yang dialami warga.

“Mengenai total kerugian materi yang diderita para korban, kami belum bisa memberikan taksiran angka yang pasti,” kata Budi.

Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk Firman (38), M. Ndong (40), Muzakir (80), dan Ridho (17).

Garis polisi telah dipasang di lokasi kejadian guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya sistem mitigasi kebakaran di wilayah padat penduduk. Minimnya akses air, peralatan pemadam, serta jarak bangunan yang rapat menjadi faktor risiko yang perlu segera ditangani oleh pihak terkait.

Kini, puluhan keluarga harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal. Harapan mereka tertuju pada bantuan pemerintah dan solidaritas masyarakat untuk bisa kembali bangkit dari musibah ini.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *