Peristiwa

Tragedi Sungai Batang Kuantan: Bocah 4 Tahun Ditemukan Meninggal

7
×

Tragedi Sungai Batang Kuantan: Bocah 4 Tahun Ditemukan Meninggal

Sebarkan artikel ini
Bocah 4 tahun yang hilang di Sungai Batang Kuantan ditemukan meninggal setelah 5 hari pencarian, operasi SAR resmi ditutup.
Tim SAR gabungan menemukan seorang bocah berusia 4 tahun yang sebelumnya dilaporkan hilang di Sungai Batang Kuantan, Desa Teluk Pauh, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi. Korban bernama Rayen ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (8/4/2026). FaktaTV/Putri)

FaktaTV, Kuansing – Pencarian intensif selama lima hari akhirnya berujung duka. Tim SAR gabungan menemukan seorang bocah berusia 4 tahun yang sebelumnya dilaporkan hilang di Sungai Batang Kuantan, Desa Teluk Pauh, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi. Korban bernama Rayen ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (8/4/2026).

Penemuan ini sekaligus mengakhiri operasi pencarian yang melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas Pekanbaru, aparat setempat, dan masyarakat sekitar. Korban ditemukan sejauh 1,9 kilometer dari titik awal diduga jatuh ke sungai.

Kepala Basarnas Pekanbaru, Budi Cahyadi, membenarkan penemuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa tim berhasil menemukan korban setelah melakukan penyisiran secara intensif di sepanjang aliran sungai.

“Korban atas nama Rayen sudah berhasil ditemukan oleh tim gabungan dan langsung di evakuasi. Korban ditemukan dengan jarak 1,9 Km dari lokasi awal kejadian,” ujarnya.

Setelah ditemukan, tim SAR segera mengevakuasi jenazah korban dan membawanya ke Puskesmas Cerenti. Selanjutnya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.

“Setelah korban ditemukan dan diserahkan kepada pihak keluarga, operasi SAR dinyatakan ditutup dan seluruh unsur yang terlibat kembali ke kesatuan masing-masing,” tambahnya.

Peristiwa ini bermula pada Jumat (3/4/2026) sore, ketika Rayen terakhir kali terlihat bermain di sekitar tepi Sungai Batang Kuantan bersama teman-temannya sekitar pukul 16.00 WIB. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, saat teman-temannya pulang, korban memilih tetap berada di lokasi.

“Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat teman-temannya pulang, korban memilih tetap berada di lokasi. Namun hingga malam hari, korban tidak kunjung kembali ke rumah, hingga akhirnya orang tua melakukan pencarian,” katanya.

Kekhawatiran keluarga semakin memuncak saat pencarian awal hanya menemukan sandal dan alat bermain milik korban di tepi sungai. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa Rayen terjatuh ke aliran Sungai Batang Kuantan.

Mendapat laporan kejadian tersebut, Basarnas Pekanbaru langsung bergerak cepat. Sebanyak enam personel tim rescue diberangkatkan menuju lokasi dengan jarak tempuh sekitar 120 kilometer. Mereka kemudian bergabung dengan tim gabungan lainnya untuk melakukan pencarian secara menyeluruh.

Selama proses pencarian, tim menghadapi berbagai tantangan, termasuk kondisi arus sungai yang cukup deras serta keterbatasan jarak pandang di beberapa titik. Namun, upaya pencarian terus dilakukan tanpa henti hingga akhirnya korban ditemukan.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya orang tua, untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat bermain di area berisiko seperti sungai. Sungai Batang Kuantan sendiri dikenal memiliki arus yang cukup kuat, terutama pada musim tertentu.

Duka mendalam kini menyelimuti keluarga korban. Warga sekitar juga turut berbelasungkawa atas kejadian tragis tersebut. Banyak pihak berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.

Dengan ditutupnya operasi SAR, seluruh tim yang terlibat kembali ke kesatuan masing-masing. Meski pencarian telah usai, kejadian ini meninggalkan luka mendalam sekaligus menjadi pelajaran penting tentang keselamatan anak di lingkungan sekitar.

Kasus ini kembali menegaskan bahwa kewaspadaan dan pengawasan orang tua sangat krusial, terutama di wilayah yang memiliki potensi bahaya alam seperti sungai. Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan edukasi serta langkah pencegahan guna menghindari kejadian serupa di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *