Lifestyle

Hara Hachi Bu dan Manfaat Bagi Kesehatan dari Pola Makan Okinawa

6
×

Hara Hachi Bu dan Manfaat Bagi Kesehatan dari Pola Makan Okinawa

Sebarkan artikel ini
Hara Hachi Bu dan Manfaat Bagi Kesehatan dari Pola Makan Okinawa
Ilustrasi makan untuk diet. (Karya: nadianb)

Fakat Tv – Hara Hachi Bu kembali menjadi sorotan karena dikaitkan dengan manfaat bagi kesehatan yang signifikan, terutama dalam menekan risiko obesitas dan penyakit metabolik. Tradisi makan masyarakat Okinawa, Jepang, ini dikenal sebagai salah satu faktor yang mendukung tingginya angka harapan hidup lansia di wilayah tersebut yang mencapai sekitar 80 tahun.

Prinsip Hara Hachi Bu mengajarkan seseorang untuk berhenti makan sebelum benar-benar kenyang, atau sekitar 80 persen kapasitas perut. Kebiasaan ini bukan sekadar pola makan, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Okinawa yang konsisten menjaga kesehatan tubuh sejak lama.

Dosen Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM, Rahadyana Muslichah, S.Gz., M.Sc., yang akrab disapa Icha, menjelaskan bahwa Hara Hachi Bu merupakan bentuk mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Okinawa.

Icha menjelaskan, selain angka harapan hidup yang tinggi, masyarakat Okinawa memiliki risiko paparan penyakit kronis yang rendah. Hara hachi bu mengakar sebagai cara hidup, budaya, lebih dari sekadar strategi untuk diet. Prinsip ini sangat erat dengan mindful eating, konsep sadar terhadap makanan yang dikonsumsi, yang kini sedang marak dikampanyekan oleh banyak praktisi dan influencer di media sosial. “Hara hachi bu sangat dekat dengan mindful eating. Ketika makan harus bisa fokus dengan makanan, hindari multitasking, menikmati rasa, memahami sinyal dari tubuh. Harapannya agar kita bisa mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi,” ujarnya, Senin (13/4).

Secara fisiologis, pola makan ini membantu tubuh mengurangi beban metabolik akibat konsumsi makanan berlebihan. Makan secara berlebihan dapat menekan sistem pencernaan dan meningkatkan risiko kelebihan berat badan hingga obesitas.

“Hara hachi bu turut memberikan jeda istirahat bagi pencernaan,” ungkapnya.

Menurut Icha, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk mengenali rasa cukup, namun sinyal tersebut membutuhkan waktu untuk sampai ke otak. Kebiasaan makan cepat atau tanpa kesadaran dapat mengganggu proses ini.

“Lambung butuh waktu untuk mengirim sinyal ke otak ketika dia kenyang. Jadi, dengan berhenti di 80% sebenarnya kita sudah menerima cukup energi, meski rasanya belum cukup kenyang,” jelasnya.

Meski memiliki banyak manfaat, Icha mengingatkan bahwa penerapan Hara Hachi Bu tidak selalu cocok untuk semua orang. Kelompok seperti ibu hamil, anak-anak, remaja, hingga atlet memiliki kebutuhan kalori khusus yang harus dipenuhi secara optimal.

Ia menegaskan, penerapan prinsip ini perlu disesuaikan agar tidak mengganggu kebutuhan nutrisi harian dan justru menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.

Untuk mulai menerapkan pola makan ini, Icha menyarankan perubahan dilakukan secara bertahap. Individu perlu membangun kebiasaan baru dengan kesadaran penuh terhadap rasa lapar dan kenyang.

Selain itu, konsistensi dan motivasi menjadi kunci utama agar pola makan ini dapat dijalankan dalam jangka panjang. Mengurangi distraksi saat makan juga penting agar tubuh lebih mudah mengenali sinyal kenyang.

“Sesederhana sadar, mengunyah sudah menjadi sinyal yang dikirimkan lambung ke otak untuk merasa kenyang,” pungkasnya.

Tag:

Hara Hachi Bu, mindful eating, pola makan sehat, Okinawa, gizi kesehatan